Terima kasih anda telah berkunjung di http://www.sorotsumatera.com/ 10/03/18 ~ Sorot Sumatera

DHARMA PERTIWI KOORCAB SUMBAR, MEMBATIK WUJUD KECINTAAN TERHADAP BUDAYA INDONESIA

Ketua Dharma Pertiwi Koorcab Sumatera Barat Daerah A bersama Ketua  Ketua PIA Ardhya Garini, Ketua Jalasenastri  dan IKKT sedang membatik dengan canting


SOROT SUMATERA.COM, PADANG,--Untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober, dan menyambut Hari Ulang Tahun ke-73 TNI, Ibu-ibu Dhrama Pertiwi Koorcab Sumatera Barat Daerah A melakukan aksi pemecahan rekor MURI membatik dengan canting yang diikuti sebanyak 320 peserta. Kegiatan ini dilakukan di Gedung Sapta Marga Makorem 032/Wirabraja Jl. Sudirman No. 29 Kota Padang, Selasa pagi, (2/10)

Danrem 032/Wbr Brigjen TNI Mirza Agus S.I.P, yang ikut hadir mengatakan, pemecahan rekor Muri membatik dengan canting ini dilakukan sebagai wujud syukur masih dilestarikannya budaya Indonesia yang diakui oleh dunia.

"Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud kecintaan kita akan Batik, budaya kita. Batik merupakan budaya Indonesia yang diturunkan sejak ratusan tahun yang lalu," kata  Danrem 032/Wbr

Ketua Dharma Pertiwi Koorcab Sumbar daerah A, Ny. Nurleli Mirza Agus ditempat yang sama juga mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan serentak di seluruh daerah Indonesia dalam rangka pemecahan rekor Muri membatik massal  dengan canting, juga dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan daya kreasi dan keterampilan anggota Dharma Pertiwi serta sebagai wadah bagi istri Prajurit yang mempunyai minat dan bakat, khususnya dalam bidang Membatik.

“Momen ini juga dapat dijadikan landasan untuk perekat kebhinekaan nusantara memperkokoh semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang diaktualisasikan dalam kegiatan nyata sebagai panggilan moral yang harus ditunaikan di tengah lingkungan keluarga besar Dharma Pertiwi, sesuai dengan tema Dharma Pertiwi Perekat kebhinekaan Nusantara”. Ucapnya.

Dalam pelaksanaan membatik ini, nampak jelas keterpaduan dan kebersamaan dan kekeluargaan antar organisasi istri TNI ini (Persit KCK, Jalasenastri, PIA Ardya Garini dan IKKT), di daerah Sumatera Barat.

Tampak hadir dalam acara pemecahan rekor muri membatik massal ini diantaranya Ketua Jalasenastri Koorcab II Daerah Armada I Selaku Wakil Ketua Dharma Pertiwi Koorcab Sumatera Barat Daerah A, Ketua PIA Ardhya Garini Cabang 14 Daerah Lanud Padang selaku Wakil Ketua Dharma Pertiwi Koorcab Sumatera Barat Daerah A dan Ketua IKKT Pragati Wira Anggini Sumatera Barat serta ibu-ibu pengurus dalam organisasi isteri prajurit.

Share:

Kemenperin: Makanan dan Minuman Dalam Negeri Akan Jadi Pionir Industri 4.0


mediaterobos.com 

Jakarta- Kementerian Perindustrian sedang memprioritaskan pengembangan industri makanan dan minuman di dalam negeri agar semakin berdaya saing global dan siap memasuki era revolusi industri 4.0. Hal ini sesuai dengan inisiatif yang terdapat di peta jalan Making Indonesia 4.0.


“Industri makanan dan minuman merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang akan menjadi pionir penerapan industri 4.0 di Indonesia. Sebab, sektor ini konsisten memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional,” kata Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono di Jakarta, Rabu (3/10).


Sigit menyebutkan, sedikitnya ada empat langkah strategis yang dijalankan Kemenperin dalam upaya mewujudkan industri makanan dan minuman nasional yang mampu kompetitif di era digital. Pertama, memfasilitasi perangkat cerdas berupa Cyber-Physical Systems untuk mengintegrasikan jaringan Internet of Things dengan lini produksi agar hasilnya menjadi lebih efisien, optimal dan berkualitas.


Langkah kedua, memperbaiki aliran bahan baku untuk menjaminnya pasokan kepada industri makanan dan minuman. Upaya ini perlu dilakukan melalui kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait. “Contohnya, menerapkan tekonologi cerdas di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan, seperti melalui sistem pemantauan otomatis atau drone autopilot,” ungkapnya.


Ketiga, mengimplementasikan peta jalan industri 4.0 dengan melibatkan sektor hulu sampai hilir agar terciptanya keterpaduan untuk meningkatkan daya saing industri makanan dan minuman nasional. “Misalnya, menetapkan pilot project bagi produsen yang sudah menerapkan industri 4.0,” lanjut Sigit.


Langkah keempat, yakni Kemenperin akan memberikan pelatihan mengenai upaya peningkatan ekspor serta menggelar pertemuan bisnis dan promosi investasi di sektor industri makanan dan minuman. “Tujuannya adalah untuk menarik investor, meningkatkan kapasitas industri dalam menerapkan industri 4.0, serta memperluas akses ekspor bagi industri makanan dan minuman,” tuturnya.


Sigit meyakini, apabila keempat jurus tersebut terlaksana dengan baik, industri makanan dan minuman nasional mampu menjadi pemimpin di pasar makanan kemasan sederhana hingga medium di tingkat Asean pada tahun 2025. Bahkan,Indonesia diproyeksi masuk dalam jajaran lima besar negara eksportir untuk industri makanan dan minuman di tingkat global pada tahun 2030.


“Oleh karenanya, dibutuhkan langkah sinergi antara pemerintah, pelaku industri dan pihak akademisi karena ke depannya akan memerlukan banyak kegiatan riset untuk menghasilkan inovasi. Untuk itu, kami memberikan apresiasi atas terselanggaranya International Conference on Agro Industry (IcoA),” paparnya.


Sigit menambahkan, bisnis industri makanan dan minuman masih prospektif di masa depan, seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat serta semakin besarnya kebutuhan makanan dan minuman khususnya produk olahan.


“Pertumbuhan di pasar domestik juga mendukung dalam perbaikan efisiensi produksi sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih kompetitif dari sisi harga dan lebih berkualitas sehingga bisa bersaing di pasar Asean hingga global,” imbuhnya.


Berdasarkan catatan Kemenperin, pada triwulan II tahun 2018, pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai 8,67 persen atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,27 persen. Bahkan, sektor industri makanan dan minuman mampu memberikan kontribusi tertinggi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas hingga 35,87 persen.


Selanjutnya, industri makanan dan minuman juga memberikan kontribusi besar terhadap nilai investasi sepanjang semester I tahun 2018 dengan menyumbang sebesar 47,50 persen atau senilai Rp21,9 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN). Sedangkan, untuk penanaman modal asing (PMA), industri makanan menyetor 10,41 persen (USD586 juta).


Sigit optimistis, dengan implementasi industri 4.0, mampu meningkatkan ekspor produk makanan dan minuman olahan nasional hingga empat kali lipat, dari target tahun ini sebesar USD12,65 miliar akan menjadi USD50 miliar pada 2025. “Industri 4.0 merupakan transformasi dari upaya mengintegrasikan internet dengan lini produksi di sektor industri yang bertujuan untuk mendongkrak produktivitas dan inovasi, mengurangi ongkos produksi, serta meningkatkan ekspor produk domestik,” pungkasnya.(**)
Share:

IKLAN

IKLAN

Author

Total Pengunjung

BERITA TERBARU

IKLAN

IKLAN

Comments

Archive

Text Widget

Gadgets

Find us on Facebook

LIPUTAN KHUSUS

liputan khusus

DHARMASRAYA

dharmasraya

Blog Archive

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.