Terima kasih anda telah berkunjung di http://www.sorotsumatera.com/ 04/12/17 ~ Sorot Sumatera

Waspada DBD, Siswa SD 49 Balai Panjang Ikuti Program Sipemantik

Payakumbuh,SS-Hefi Suryani, Kabid P3 Dinas Kesehatan dalam kegiatan sosialisasi Sipemantik pada 33 siswa SD 49 Balai Panjang di Aula Dinas Kesehatan, Senin (10/04), menjelaskan, beberapa tahun lalu, siklus penyakit DBD hanya berjangkit di bulan Oktober sampai Desember saja disaat musim penghujan menjelang pergantian ke musim panas. Namun sekarang, sampai bulan April pun masih ditemukan kasus DBD di masyarakat Payakumbuh. 


Peredaran nyamuk aedes aegipty sebagai pembawa virus DBD masih terjadi, 4 tahun lalu, DBD belum pernah menjangkiti warga Payakumbuh, namun belakangan ini semakin banyak kasus terjadi, faktor cuaca dengan pemanasan global juga ikut berperan, dulunya nyamuk ini tidak bisa hidup di suhu udara dingin Payakumbuh, paling hanya area Padang sampai Lubuk Alung saja yang mampu hidup nyamuk tersebut, namun sekarang nyamuk ini sudah bisa hidup di Payakumbuh, warga harus terus mewaspadai penyebaran nyamuk ini, sebut Hefi.


Siklus DBD tahun 2017 ini sudah menyerang Payakumbuh sejak bulan November lalu, namun sampai bulan April ini masih saja ditemukan, sangat diharapkan peran warga untuk ikut berperan dalam memerangi keberadaan Jentik Nyamuk DBD di masing-masing rumahnya. Nyamuk Aedes ini sebenarnya hanya bisa hidup dan berkembang biak di air bersih, bukanlah air kotor, jadi warga musti waspada keberadaannya di bak kamar mandi, penampungan air, pot bunga, kaleng dan ban bekas agar terbebas dari genangan air, terang Hefi.


Sementara itu, Dr Nella Fatma, Kasi Pengendalian Penyakit Menular mengatakan, bahwa Program Sipemantik merupakan salah satu terobosan baru dalam penanggulangan DBD di Payakumbuh, sipemantik sendiri merupakan singkatan dari "Siswa Pelajar Pemantau Jentik", yang memberdayakan para siswa mulai SD sampai SLTA untuk memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes Aegipty yang menjadi sumber penularan virus DBD ini. 


"Jika tempat perindukannya bisa dibasmi, dijamin penyebaran DBD bisa kita tekan, nah untuk menjangkau jentik-jentik nyamuk tersebut, saat ini dirasakan kelemahan, para kader kesehatan yang sudah ada dari unsur PKK atau kader jumantik tidaklah akan bisa menjangkau pemeriksaan jentik nyamuk sampai ke dalam-dalam rumah, para siswa atau anak yang tinggal dirumah tersebut inilah yang diharapkan dapat menjangkaunya sampai ke kamar-kamar mandi, penampungan air lain dalam kamar di rumah-rumah mereka yang lebih privacy", sebut Dr Nella.


Sipemantik ini sekaligus menjadi kader bagi teman sebayanya, mereka adalah para dokter-dokter kecil yang dipilih sekolah untuk menyuarakan pesan kesehatan pada temannya. Diharapkan, selain menjadi pemantau jentik di rumahnya, siswa terpilih tersebut juga menjadi agen pemantau jentik di lingkungan sekolahnya. Kalau bulan lalu sudah pula disiapkan 30 orang siswa MTSN Payakumbuh sebagai Sipemantik, semoga dengan upaya ini peredaran virus DBD di Payakumbuh bisa ditekan, kata Dr Nella yang juga mantan kepala Puskesmas Padang Karambia. (Bayu)
Share:

Penerima Manfaat Beras Sejahtera (Rastra) dan Bantuan Pangan Non Tunai Di Kota Payakumbuh Berkurang

Payakumbuh,SS-Dari 6.383 KK (Kepala Keluarga) di tahun 2016, maka di tahun 2017 menjadi 5.745 KK. Artinya berkurang sebanyak 10 %.Acara yang digelar Dinas Sosial Kota Payakumbuh ini, diikuti seluruh Camat dan Kasi Kesos Kecamatan serta Lurah se Kota Payakumbuh lebih kurang 63 peserta. Dengan menampilkan narasumber Tim Raskin Tingkat Propinsi, Bulog Sub Divre Bukitinggi, BPS, Dinas Sosial Kota Payakumbuh, dan Bappeda Kota Payakumbuh


Walikota Payakumbuh, diwakili Staf Ahli Ruslayeti saat membuka sosialisasi program subsidi Rastra Kota Payakumbuh, Senin (10/5) di aula Peternakan Kota Payakumbuh, “Kekurangan ini didasarkan pada Keputusan Gubernur Provinsi Sumatera Barat Nomor500-258-2017 tentang Penetapan Pagu Keluarga Penerima Manfaat Beras Sejahtera dan Bantuan Pangan Non Tunai Per Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat,” sebutnya.


“Kita akui, ada beberapa kelemahan, baik dari segi data penerima, kualitas beras, kuantitas beras, maupun dalam pelayanan penyaluran. Hal ini disebabkan keterbatasan infrastruktur seperti gudang, timbangan, dan lain sebagainya. Tapi kami memberikan apresiasi atas seluruh upaya kita melakukan perbaikan pelayanan,” kata Ruslayeti.


Agar program ini dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan humanis.”Artinya, jangan ada masyarakat yang merasa tidak mendapatkan haknya sebagai penerima Rastra/Raskin. Jangan sampai masyarakat tidak mendapatkan jumlah dan kualitas beras yang tidak sesuai dari ketentuan, yakni 15 Kg/Rumah Tangga Sasaran (RTS) dengan harga tebus Rp. 1.600,-/Kg,” pungkas Ruslayeti.


“Kepada para peserta sosialisai dingatkan untuk mengikuti dengan sungguh-sungguh. Materi dan diskusi yang berlangsung dalam kegiatan sosialisai ini, merupakan awal dalam menyamakan persepsi dalam melayani masyarakat penerima Rastra/Raskin,” jelas Ruslayeti. (Bayu)

Share:

IKLAN

IKLAN

Author

Total Pengunjung

BERITA TERBARU

IKLAN

IKLAN

Comments

Archive

Text Widget

Gadgets

Find us on Facebook

LIPUTAN KHUSUS

liputan khusus

DHARMASRAYA

dharmasraya

Blog Archive

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.