Header Ads

  • Breaking News

    KPK Berikan Pemahaman Tentang Gratifikasi Di Payakumbuh

    Payakumbuh,SS–Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi ST. MT buka acara sosialiasi pencegahan dan pengendalian gratifikasi yang digelar di aula kantor Balaikota Payakumbuh, Bukik Sibaluik, Jumat pagi (28/4). Puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai dari Sekda, Asisten, Staff Ahli, Kepala dan Sekretaris OPD, Kepala Bagian dan seterusnya tampak hadir menyimak dengan seksama jalannya acara sosialisasi.

    Dalam sambutannya Riza merasa berbahagia dengan kehadiran pihak KPK untuk memberikan pemahaman tentang gratifikasi di Payakumbuh. “Kita ingin segala sesuatu berjalan sesuai dengan aturan. Walaupun APBD Kota Payakumbuh tidak besar, namun integritas dan akuntabilitas harus tetap terjaga. Jangan sampai kita terjerumus terhadap hal-hal yang tidak kita inginkan,” sebut Riza.

    Riza mengatakan, ada beberapa titik di pemerintahan yang sangat berpeluang untuk melakukan gratifikasi seperti kantor pelayanan satu pintu, kelurahan, dan seterusnya. Riza bercerita bagaimana ia membuat proses perizinan menjadi singkat, efektif, dan efisien sehingga Badan Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPM-PTSP) Kota Payakumbuh juara pertama nasional. Lalu ada Investment Award dari pusat karena mengganggap Pemko Payakumbuh punya komitmen yang tinggi dalam mengelola investasi dan perizinan, kata Riza.

    “Dengan baiknya perizinan, itu berarti membuka idle capacity yang memicu pertumbuhan ekonomi. Alhamdulillah Payakumbuh menjadi kota yang paling tinggi pertumbuhan ekonominya di Sumatera Barat. Tahun 2012 income per kapita Payakumbuh 2300 USD, sekarang sudah 3400 USD sama dengan rata-rata nasional,” tutur Riza.

    Dalam acara sosialisasi tersebut, hadir sebagai narasumber dari KPK, Direktorat Gratifikasi Deputi Bidang Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Uding Juharudin. Dalam materinya Uding banyak menyelipkan nasihat-nasihat keagamaan karena korupsi maupun gratifikasi sangat efektif diberantas kalau yang bersangkutan merasa diawasi oleh Allah SWT. “Kalau kami sebagai penegak hukum, bisa saja dikibuli. Tapi kalau Allah, tentu tak bisa didustai. Kesadaran selalu diawasi oleh Sang Pencipta perlu terus dibangun. Mari selalu ingat tujuan kita hidup di dunia ini yakni selamat dunia akhirat dan terhindar dari azab neraka,” ujar Uding.

    Dalam mencari kekayaan, tidak akan ada habisnya. Gaji akan selalu kurang. Oleh karena itu Uding mengajak mari menauladani Bung Hatta yang selalu hidup dalam kesederhanaan tapi tidak berkurang kemuliaannya. Uding juga mengutip Baharudin Lopa yang mengatakan hadiah/gratifikasi  harusnya untuk orang susah.

    Uding mengatakan gratifikasi adalah akar dari korupsi. Dengan diberantasnya gratifikasi maka akan terbangun transparansi, akuntabilitas dan integritas. Pada prinsipnya setiap ASN atau penyelenggara negara harus menolak gratifikasi. Jika sudah terlanjur menerima bisa melapor ke inspektorat, Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG), atau ke KPK paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak menerima gratifikasi. Uding memberi contoh Jokowi yang melaporkan menerima gratifikasi berupa Gitar Metalica ketika ia masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. (Bayu)

    OLAHRAGA

    Post Bottom Ad

    ad728