Header Ads

  • Breaking News

    Cap Jempol,SMAN 2 Dipelosok Rahi Bermacam Prestasi

    SOLSEL,SS-Meski belajar di pelosok, tapi para siswa dan siswi SMAN 2 Kabupaten Solok Selatan tak miskin prestasi. Berbagai prestasi tingkat kabupaten, provinsi, nasional hingga internasional ditorehkan anak didik di sekolah ini. Mereka membuktikan diri bisa saing dengan sekolah favorit lainnya di Sumbar.

    SMAN 2 Solsel salah satu sekolah menengah yang terletak di Kecamatan Sangirjujuan. Jumlah siswanya 488 orang dan tergabung dalam 18 rombongan belajar (rombel). Sepintas sekolah ini terlihat sama seperti sekolah lainnya, meski dari sisi fasilitas masih ada kekurangan.

    Siapa sangka di balik kesederhanaan bangunan dan fasilitas, di sekolah yang dipimpin M Sukamto ini justru tersimpan bibit-bibit generasi muda yang mumpuni. Para siswa tak hanya jago bidang akademik, namun juga ekstrakurikuler.

    Kepala SMAN 2 Solsel M Sukamto bercerita, agar sekolahnya diminati masyarakat, maka para siswanya harus berprestasi. Keinginan itu tak hanya sekadar khayalan semata, tapi benar-benar dibuktikannya dengan kerja nyata.

    Hasilnya, enam siswa mampu menjadi juara berbagai iven tingkat kabupaten dan provinsi. Dua siswa masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), 31 siswa diterima di perguruan tinggi negeri (PTN), dan dua siswa jadi wakil Indonesia dalam kegiatan pramuka tingkat internasional serta satu siswa mewakili Sumbar dalam kegiatan pramuka tingkat nasional di Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Salah seorang siswa, Winda Febri Anggrila berhasil meraih peringkat pertama lomba Matematika tingkat kabupaten pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan urutan 7 besar tingkat provinsi. “Ini jadi kebanggaan kami. Setiap tahun, terus ada siswa kami jadi wakil Solsel ke tingkat provinsi,” kata M Sukamto.

    Sementara itu, lima orang siswa lainnya meraih juara 2 tingkat kabupaten. Yakni Tesa Yolanda lomba bidang studi Fisika, Sisi Sartika bidang Kimia, Yuliza Efendi bidang Biologi, Widia Asari bidang Ekonomi dan Nursyimta (almarhumah) bidang Astronomi.

    Dua siswa lulus di IPDN, yakni Yumelda dan Ela Sapitra Ramadhani. Mereka anak dari keluarga miskin yang bersekolah SMAN 2 Solsel. “Tahun ini sudah 31 orang siswa kami yang diterima di PTN. Sebelumnya, hanya bisa dihitung dengan jari,” ungkapnya.

    Sementara itu, dua siswa diutus mengikuti kegiatan Jambore Internasional di Bumi Perkemahan Sarimbun, Singapura, yakni Meri Bela dan Ela Safitra. Seorang siswa ikut pramuka di NTB atas nama Hafiz Alfikri.

    Siswi SMAN 2 Solsel Ela Safitri menyebutkan, kegiatan berskala internasional itu dapat jadi wahana berkomunikasi dan bertukar pengalaman para peserta didik. Untuk mengaplikasikan kegiatan kepramukaan nasional pada kegiatan internasional.

    “Kami jadi peserta penegak di Singapura. Kami bertukar pengalaman karena dipertemukan dengan peserta pramuka dari berbagai negara yang berbeda bahasa,” ungkap siswa kelas XII itu.

    Siswi lainnya, Tesa Yolanda berharap tahun depan dia bisa memberikan prestasi lebih baik lagi untuk sekolah yang dia cintai. Meski tahun ini meraih juara 2, namun tahun depan dia bertekad tampil lebih maksimal di ajang OSN.

    ”Bersaing antar-siswa sekolah menengah itu tak mudah. Butuh penggalian wawasan yang lebih dalam. Mudah-mudahan tahun depan, saya bisa jadi yang terbaik. Setidaknya mampu jadi wakil Solsel ke provinsi,” kata anak petani itu.

    Sementara Winda Febri Anggrila, 16, sudah berusaha menggali Matematika dengan baik, namun hasil yang diperleh baru masuk tujuh besar tingkat provinsi.

    “Saya berharap, sekolah kami terus bisa berkompetisi di OSN, setidaknya di provinsi. Sebab, sumber daya manusia siswa pelosok dengan siswa yang tinggal di perkotaan atau ibukota provinsi dan daerah maju, jauh berbeda dengan kami,” katanya.

    Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana SMAN 2 Solsel, Muhridal menambahkan, selama 2016 pihak sekolah telah menerapkan shalat berjamaah bagi siswa setiap masuknya waktu Zuhur dan Ashar.

    “Ini wadah penguatan nilai religius siswa. Mudah-mudahan dapat mereka terapkan di lingkungan tempat tinggal masing-masing,” harapnya. Saat ini, sekolah sudah mengupayakan mengolah barang bekas seperti ban dan kaleng bekas menjadi barang bermanfaat, seperti pot bunga.

    “Kalau sekolah mengandalkan dana untuk beli pot bunga besar, jumlah rupiahnya sangat besar. Nah, kalau diberdayakan siswa, maka barang tak bernilai bisa jadi berharga di sekolah ini,” katanya. (*)



    OLAHRAGA

    Post Bottom Ad

    ad728